Selasa, 06 November 2012

15 hari sepanjang 3.657 km bersama Daihatsu Terios

Sumatera atau sumatra adalah pulau ke-6 terbesar di dunia yang terletak di indonesia dengan luas 443.065,8 km2. Penduduk pulau ini sekitar 42.409.510 jiwa (2000). Pulau ini juga terkenal dengan produksi kopinya yang terkenal hingga mancanegara. Tak heran Pulau sumatera di sebut juga surganya para penikmat kopi (Sumatera Coffe Paradise).
        Dengan keunikanya tersebut tim petualang yang terdiri dari 10 orang akan melibas keindahan alam pulau Sumatera dengan tiga unit Daihatsu Terios TX-AT (2 unit) dan Terios MT (1 unit). Dengan perjalanan kurang lebih sejauh 3.300 km, Tim Terios 7 wonders akan membelah keindahan pulau sumatera hingga titik nol di Sabang. Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai penggugah dunia pariwisata bahwa “Sumatera Island is Beautiful”. Di sini tim juga akan mengunjungi 6 spot produsen kopi yang terkenal hingga mancanegara. Berikut ini persiapan yang akan di tempuh dari Jakarta menuju Liwa dengan jarak hingga 567 km.



Day 1 Jakarta-Liwa

       Tepat pada pukul 23.00 WIB tim bergegas menuju penyeberangan Merak-Bakauheni. Selama di ferry, tim memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Sesampainya di kota Lampung, sarapan merupakan hal yang mutlak dilakukan, mengingat rentang perjalanan tidak kurang dari 3000 km, baru dilakoni tim Terios 7 Wonders, 300 km. Dari kota Lampung tim bergerak menuju Liwa, Lampung Barat. Perjalanan menuju Liwa yang merupakan wilayah pegunungan ditempuh melalui kawasan Bukit Kemuning, dengan ragam jalan yang didominasi oleh tikungan pendek disertai oleh tanjakan terjal. Kondisi jalan inilah yang menuntut tim untuk pandai-pandai melakukan perpindahan transmisi. Beberapa kali shifter matik Terios AT berpindah dari D-3 ke 2. Sementara untuk yang manual dari 4 ke 3.



Day 2 Liwa-Lahat

Di hari ke-2 ini tim mengeksplorasi pengolahan kopi di Liwa yang terkenal hingga mancanegara, kami menemukan pengalaman menarik. Kami bertemu dengan M. Khodis, salah seorang penyuluh pertanian yang memiliki pabrik pengolahan kopi. “Biji kopi yang diolah di sini berasal dari petani kopi di sekitar sini. Selain pengolahan cara lama kami mencoba kopi beraroma. Ada 2 macam yang sudah dikembangkan dan yaitu kopi beraroma ginseng dan kopi berorama pinang,” perinci Khodis. Menikmati suasana Danau Ranau di pagi hari sungguh menyegarkan, apalagi dengan di temani secangkir kopi panas yang beraroma khas ditemani sejuknya udara sekitar. Setelah melepas lelah dengan tidur panjang semalam, kami telah memulihkan tenaga untuk kembali beraktifitas. Pasti sahabat petualang setuju perjalanan sejauh 509,4 km bukanlah jarak yang pendek. Sinar matahari pagi nyaris tak terlihat karena tertutup kabut, nun jauh di seberang wisma kami bermalam terlihat siluet Gunung Seminung.


 Day 3 Lahat-Pagar Alam


Jalanan menuju kota Pagaralam agak sedikit bergelombang. Sekitar 20 menit keluar dari kota Lahat jalanan mulai berkelok-kelok. Memasuki perbatasan kota Pagaralam, kelokan jalanannya disertai dengan tanjakan terjal. Untuk mengatasi handycap ini, shifter matik Terios pun berpindah-pindah. Ketika tanjakan lumayan terjal agar akselerasi tetap terjaga posisi shifter bergeser ke L. Begitu sudah agak landai bergeser lagi ke 2 , D-3 dan juga D. Walaupun penuh dengan penumpang dan barang bawaan, ternyata ketiga terios yang terdiri dari 2 tipe matik dan 1 manual berhasil mengatasi tantangan jalanan ini. Asyik!
           Letak pagaralam yang berada kurang lebih 1.000 m dpl di atas permukaan laut membuat udara lumayan sejuk. Di kanan kiri jalan selain teh dan kopi juga ada persawahan yang lumayan luas. Selain surganya kopi dan teh, karena kesuburan tanahnya pagaralam memang sebagai salah satu lumbung padi di Sumatera Selatan.


Day 4 Pagar Alam-Empat Lawang

Hujan turun lumayan deras ketika kami masih beristirahat di hotel di kaki Gunung Dempo. Untung hujannya tak lama dan cepat reda. Sehingga ketika kami bersiap untuk meneruskan perjalanan kami tak perlu takut basah kena air hujan ketika harus mengatur barang bawaan kami di Terios.
        Tak jauh dari rumah dinas bupati, kami diajak bertemu Pak Anang Zairi – seorang pemilik pengolahan kopi. “Kopi di Empat Lawang ini berbeda lo. Ini merupakan hasil percampuran Arabica dan Robusta. Wujud aslinya Robusta tapi aromanya Arabica,” jelas Anang. Di rumah Anang, sistem pengolahan kopi sudah tertata dengan rapi. Dan tak hanya kopi saja tapi beberapa panganan ringan dari pisang, singkong juga diproduksi. Malah tak hanya itu madu hutan pun juga diproduksi di sini.

 
Day 5 Empat Lawang-Curup

Aktivitas pagi di Kabupaten Empat Lawang kami mulai sejak pukul 6 Pagi. Terima kasih banyak buat Bupati Empat Lawang – Budi Antoni yang sudah mengijinkan rombongan 7 Wonders di Puri Emass. Sehingga kami tak perlu repot lagi mencari penginapan di kota kabupaten hari pemekaran ini. Karena tergolong baru maka mencari penginapan di daerah ini terpaksa tak banyak pilihan.
          Tim Penggerak PKK yang dipimpin istri bupati juga serius membantu pemanfaatan kopi semaksimal mungkin. Salah satunya adalah membina perajin souvenir khas Empat Lawang dengan memakai bahan dari kayu kopi hasil peremajaan. “Daripada kayu kopi yang sudah tua dan tidak produktif dibuang dan hanya dijadikan kayu bakar maka di tangan seorang perajin seni menjadi punya nilai ekonomi tinggi Malah tak hanya batang kayunya saja yang dijadikan benda seni, daun kopi pun bisa dijadikan kerajinan unik seperti misalnya tempat tissue dan sebagainya. Tak tanggung-tanggung beberapa masyarakat yang memang menekuni dunia kerajinan dikirim ke Jogja untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagaimana meningkatkan nilai tambah perkopian.


Day 6 Curup-Bengkulu

Tak seperti perjalanan sebelumnya yang selalu berpindah penginapan, ketika sampai di Bengkulu tim 7Wonders memutuskan untuk beristarahat agak lama. Mengingat rute Bengkulu – Bukittinggi melalui Padang akan kami tempuh secara langsung. Selain itu kami juga akan mengunjungi acara CSR berupa penyerahan bantuan untuk Posyandu dan juga UKM.
Acara CSR sendiri dipusatkan di main dealer Daihatsu jalan S Parman. Kegiatan CSR ini dihadiri pula oleh sejumlah pejabat Pemkot Bengkulu antara lain Walikota Bengkulu : Bp. H. Ahmad Kanedi, SH, Kepala Dinas UKM Kota Bengkulu: H. Sudarto, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu: Drg. H. Mixon Syahbudin, Ketua Penggerak PKK: Ibu. H. Armelly. Sedangkan dari Daihatsu adalah Div Head Corporate IT: Akmal Kusumajaya dan CEO Tunas DHT : Bpk Zainudin.


Day 7 Bengkulu-Bukit Tinggi


Etape dari Bengkulu menuju Bukittinggi melalui Muko-Muko Padang sudah kami prediksi bakal menguji fisik dan stamina. Baik anggota tim 7 Wonders maupun Tiga Daihatsu Terios yang dipakai. Rute ini sengaja kami pilih karena semenjak dari Jakarta hingga ke Bengkulu rute yang kami lewati lebih banyak melewati perbukitan. Saatnya menjajal jalanan di jalur pantai barat trans Sumatera. Petualangan kami melalui rute pantai barat memang terasa berbeda. Kalau sebelumnya didominasi pegunungan dan hutan, kini lebih banyak menikmati pemandangan pantai. Selain cuaca panasnya lumayan menyengat berkisar 35 derajat Celcius, tikungan-tikungan yang ada juga lebih tajam. Sementara karakter tanjakan dan turunannya kurang lebih sama dengan jalur sebelumnya.
Perfoma 3 Terios yang kami bawa ternyata masih tetap mantap. Walaupun kami “siksa” untuk melahap rute yang dilalui, semua berhasil diatasi dengan sempurna. Semetara kondisi aggota tim 7 Wonders sendiri akibat perubahan suhu yang lumayan cepat berubah-ubah dan juga kurangnya istirahat membuat sebagian orang mulai teserang flu. Tapi sejauh ini semua masih tetap oke dan semangat.


 
Day 8 Bukit Tinggi-Tarutung


Hujan deras yang sempat turun membuat tanah jadi becek. Ini justru yang dinanti dan bikin badan jadi segar lagi.Ground clearence Terios teruji dan tak mudah mentok. Sementara performa girboks matik dan juga mesin 1.500 vvti ok juga. Dipaksa main off-road ternyata oke banget. Kalau ada versi 4x4-nya pasti tetap laku. Hari ini kami masuk penginapan di Mandhelig Natal sekitar pukul 9 malam.



Day 9 Tarutung-Medan


Selain rute Bengkulu – Bukittinggi, rute Mandailing Natal - Medan juga bakal menguras seluruh energi tim 7Wonders. Dengan istirahat yang minim sementara jarak tempuhnya lumayan jauh sekitar 764 km serta kondisi jalanan yang tak bisa diprediksikan butuh konsentrasi dalam mengendalikan Terios.
Kerusakan jalan ini membuat perjalanan agak terhambat. Jalanan tanah berbatu lagi-lagi menguji ketangguhan suspensi Terios. Jujur saja kami terkejut dengan ketangguhan suspensi Terios. Selama dalam perjalanan meskipun harus kami “hajar” di jalanan jelek ternyata suspensi Terios masih oke.



Day 10 Medan

Perjalanan panjang 7Wonders sudah mencapai separuh lebih dari rute yang direncanakan ketika kami sudah berada di Medan. Selain untuk memulihkan stamina selama 2 malam di Medan kami juga melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR). Program ini disinergikan dengan program CSR PT. Astra Daihatsu Motor (ADM). Untuk di Medan acara simbolis penyerahan bantuan kepada 2 Posyandu dan 5 UMKM dilakukan di dealer Daihatsu, Jalan Sisingamangaraja No. 170, Medan.


Day 11 Medan-Langsa

Rute perjalanan dari Medan menuju Langsa lumayan lancar. Kondisi jalan raya juga lumayan bagus dan cenderung flat. Meskipun di beberapa ruas jalan ada perbaikan dan pelebaran tapi tak sampai menyebabkan kemacetan. Jarak sekitar 200 km pun tak terasa jauh. Kondisi aspal jalan memasuki provinsi Aceh juga lumayan mulus.


Day 12 Langsa-Takengon

Kota Takengon adalah persinggahan terakhir tim 7Wonders dalam mengeksplorasi 7 tempat penghasil kopi di Pulau Sumatera. Sepanjang perjalanan ini sudah ada 6 tempat yang kami kunjungi yaitu Liwa (Lampung), Lahat, Pagar Alam, Empat Lawang, Curup –Kepahiang, Mandailing Natal dan sekarang giliran Takengon.


Day 13 Takengon-Banda Aceh


Jalanan ke Banda Aceh lumayan lebar dan mulus sehingga perjalanan bersama Terios pun menyenangkan. Kami akhirnya masuk di hotel pukul 23.30 WIB. Karena besok paginya harus menyeberang ke Sabang maka semua barang harus dipaking saat ini juga.



 Day 14 Banda Aceh-Sabang


Rangkaian perjalanan panjang tim Terios 7 Wonders sepanjang 3.657 km selama 15 hari berakhir di tugu “Nol” Kilometer tepat pukul 12.48 WIB (24/10). Dari sinilah pengukuran luas wilayah Indonesia dimulai. Di Sabang, rombongan Terios 7 Wonders sudah ditunggu oleh para petinggi PT Astra Daihatsu Motor (ADM) antara lain, Amelia Tjandra, Rio Sanggau, Elvina Afny, Guntur Mulja dan beberapa wartawan nasional dari Jakarta yang diajak khusus menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Anggota tim 7-Wonders yang terdiri dari Tunggul Birawa (leader), Insuhendang, Bimo S Soeryadi, Ismail Ashland, Aseri, Toni, Arizona Sudiro, Endi Supriatna, Enuh Witarsa, David Setyawan (ADM), Rokky Irvayandi (ADM) mendapat ucapan selamat dari yang hadir di tugu “Nol” Kilometer. “Selamat! Terima kasih tim Terios 7 Wonders sudah berhasil mennyelesaikan seluruh etape perjalanan panjang ini tanpa ada kendala berarti. Terbukti Terios adalah SUV yang tangguh!”.


           Jadwal kepulangan tim Terios 7 Wonders kebetulan memang sangat berdekatan dengan hari raya Idul Adha. Sebelum pulang dengan mengenakan pesawat udara pada sore harinya, PT ADM dan juga tim Terios 7 Wonders menyerahkan 3 ekor sapi untuk dijadikan hewan kurban. “Ini salah satu bentuk ucapan rasa syukur kami karena program Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise sudah berhasil dilaksanakan tanpa ada hambatan berarti. 3 ekor sapi ini melambangkan 3 Terios yang kami bawa dari Jakarta hingga Aceh,” komentar Rio Sanggau salah satu petinggi ADM ketika menyerahkan 3 ekor sapi pada panitia kurban di Masjid Raya – Banda Aceh. Oh, ya pada saat penyerahan hewan kurban, kapal dari Sabang yang membawa 3 Terios sudah merapat. Tiga orang anggota tim pun menyusul ke pelabuhan Ulee Lheue untuk membawa kembali kendaraan yang menemani kami selama ini. Akhirnya pukul 16.35 WIB seluruh anggota tim Terios 7 Wonders terbang kembali ke Jakart. Sampai jumpa di petualangan seru kami selanjutnya. 


 Referensi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar